about me ))

Foto saya
*ndut,*baek,*rame,*cengeng,rada2 ddah :))

Senin, 19 April 2010

* Enaknya jadi wirausaha *


Itulah ucapan yang disampaikan Wakil Presiden Boediono saat menghadiri acara pemberian penghargaan dan pembukaan pameran Wirausaha Mandiri di Jakarta. Wapres mengatakan, kalau pada masa masih menjadi mahasiswa ada program wirausaha seperti ini, mungkin ia memilih menjadi pengusaha ketimbang menjadi pejabat.

Menurut Wapres, menjadi pengusaha jauh lebih bebas dan tidak terlalu terikat kepada aturan yang mengungkung. Apalagi pada saat seperti sekarang ini di mana peran pengusaha menjadi sangat penting dalam mendorong pembangunan bangsa.

Peran negara dalam pembangunan di seluruh dunia memang semakin mengecil. Yang menjadi motor pembangunan dan sekaligus penyedia lapangan kerja yang terbesar adalah dunia usaha.

Pada kita, konotasi pengusaha masihlah negatif. Pengusaha selalu diartikan hanya sebatas pedagang yang orientasinya hanya sekadar mencari untung. Padahal pengusaha adalah pihak yang harus mampu melihat peluang. Bahkan peluang itu harus diikuti dengan tindak lanjut yakni menanamkan investasi yang hasil bisa dua, berhasil atau gagal.

Pengusaha tidak pernah hanya berorientasi kepada keuntungan. Pengusaha mempunyai orientasi yang jauh lebih tinggi lagi dari sekadar mencari keuntungan yakni mengakumulasikan modal agar kemampuannya untuk mengembangkan diri semakin besar, sehingga kesempatan membuka lapangan pekerjaan juga menjadi semakin besar.

Oleh karena itu, pengusaha bukanlah profesi yang merugikan. Dalam konteks dunia sekarang ini, pengusaha justru menjadi tumpuan harapan. Dengan adanya pengusaha maka akan ada potensi untuk membuat negara semakin maju dan semakin banyak orang mendapat kesempatan memperoleh pekerjaan.

Pada kita, sumbangan yang bisa diberikan pemerintah bagi pertumbuhan ekonomi hanyalah sekitar 13 persen. Sisanya sekitar 87 persen diharapkan datang dari kalangan dunia usaha.

Sumbangan 87 persen dari investasi baru yang setiap tahun harus mencapai Rp 2.000 triliun tidaklah sedikit. Untuk itu dibutuhkan orang-orang yang tidak sekadar berani, tetapi mempunyai penciuman yang tajam untuk melihat peluang yang baik untuk dikembangkan.

Di sinilah dibutuhkan jiwa kewirausahaan yang tinggi. Pada kita jumlah wirausaha yang tersedia masih terbatas jumlahnya. Baru 0,18 persen warga kita yang memiliki jiwa kewirausahaan.

Padahal untuk menopang kemajuan sebuah negara, minimal dibutuhkan adanya dua persen wirausahawan yang andal. Amerika Serikat bisa menjadi besar karena mereka memiliki sekitar 11 persen wirausahawan yang andal. Singapura mampu tumbuh sebagai kekuatan ekonomi karena memiliki lebih dari tujuh persen wirausahawan.

Sebetulnya orientasi kepada pengembangan usaha tidak boleh terbatas hanya pada kalangan dunia usaha saja. Kalangan birokrasi pun harus memiliki jiwa kewirausahaan sehingga ketika ia membuat kebijakan mengerti betul apa yang dibutuhkan negara ini untuk bisa maju.

Melahirkan wirausahawan baru tidak bisa seketika. Ada sebuah proses yang harus dilakukan dan bahkan pengenalannya harus dimulai sejak bangku sekolah dasar.

Pengusaha Ciputra merupakan salah seorang yang mempunyai obsesi untuk memperkenalkan pendidikan kewirausahaan sejak dini. Pada beberapa sekolah yang ia dirikan, diperkenalkan program yang bukan sekadar teoritis, tetapi juga praktis. Anak-anak diajarkan untuk mulai mengenal namanya modal dan diajarkan bagaimana cara mengelolanya secara baik.

Bangsa Indonesia memiliki potensi yang tidak kalah dengan bangsa lain untuk melahirkan wirausahawan yang andal. Program yang dilaksanakan Bank Mandiri dengan menantang para mahasiswa dan alumni untuk terjun di bidang kewirausahaan, telah melahirkan anak-anak muda yang potensial.

Dalam tiga tahun program yang dilaksanakan, sekarang ini setidaknya sudah lahir sekitar 26.000 wirausahawan muda baru. Mereka terus berkembang dan menjadi usahawan yang potensial untuk menjadi besar.

Program seperti ini haruslah terus dijalankan. Bahkan bukan hanya oleh Ciputra atau Bank Mandiri, tetapi harus dilakukan oleh lebih banyak orang lagi. Kita membutuhkan usaha yang keras untuk meningkatkan jumlah wirausahawan dari sekarang 0,18 persen menjadi minimal dua persen.

Selain perlu digalakkannya kurikulum yang lebih membumi di dunia pendidikan, sekali lagi yang harus juga kita perbaiki adalah penghormatan terhadap profesi pengusaha. Bahwa menjadi pengusaha itu bukanlah aib, tetapi itu adalah profesi yang mulia karena bisa membuat bangsa dan negara ini lebih baik tingkat kehidupan ekonominya.

3 komentar: